Sayang… Maaf kalau aku tertawa ketika aku ayunkan penaku demi
menuliskan sebuah kenangan indah antara kau dan aku. Kenapa? Karena kau
tau selama ini aku tidak pernah menulis surat kepadamu. Aku tak pernah
punya waktu untuk sekedar menulis. Kini, demi rasa cintaku padamu yang
takkan pernah padam, aku tuliskan sepenggal kisah antara kau dan aku.
Ingatkah
engkau sayang? Awal mula kita memutuskan untuk bersatu, banyak sekali
yang menentang. Kala itu aku merasa sendiri dan tak mampu lagi hidup
karena ibuku pun ikut menentang keras pernikahan kita. Walaupun akhirnya
ibu terpaksa mengijinkan kita untuk ijab qobul, tapi ibu tetap membenci
dan tidak menerimamu sebagai menantu. Aku sedih. Tiap hari, tiap malam
selama 1 bulan lebih aku tidak merasakan indahnya cinta dan malam
pertama seperti layaknya sepasang pengantin baru. Ibu menentang kau
tinggal di rumahku dan akupun tak boleh menyusulmu sayang. Pedih, perih,
kenapa ibu harus memberi ijin kepada kita berdua untuk ijab qobul kalau
akhirnya kita dipisahkan?
Tapi cukuplah kenangan buruk 1 bulan
awal kita menikah. Aku tak mau mengingatnya sayang. Aku hanya ingin
mengingat ketika malam hari kau menyelinap masuk ke rumahku seperti
pencuri, mencari kesempatan ketika ibu sedang pergi. Akhirnya kau dan
aku bisa merasakan indahnya malam pengantin setelah 1 bulan pernikahan
kita. Ah, sungguh, walaupun singkat dan bertingkah seperti maling
dikejar massa, aku merasakan bahagianya menjadi istrimu. Ya, kau tak
bisa berlama-lama ada dirumahku karena kau dan aku sama-sama takut jika
harus beradu emosi dengan ibuku.
Dan ya, Tuhan mungkin membantu
hambaNya yang kesulitan. Aku mengandung anak pertama kita. Aku
mengandung dalam keadaan dimusuhi ibu, dimusuhi saudara kandungku,
dimusuhi saudara-saudaraku, dan hanya kakek yang tersenyum bahagia
mengetahui kehamilanku. Hanya kakek yang berpihak kepadaku dan kepada si
anak yang sedang kukandung. Pasrah dan tetap sabar menjalani hari-hari
sulitku hingga akhirnya anak kita lahir sayang. Dia laki-laki, wajahnya
mirip sekali denganmu. Walaupun kau tak tau bagaimana aku berjuang
dengan maut ketika melahirkan jagoan kita tapi aku bersyukur ketika kau
menyampaikan salam bahwa kau bahagia memiliki anak dariku.
Aku
memang tak seperti istri-istri yang lain yang selalu ditemani sang suami
ketika membesarkan seorang anak. Aku sendiri dan hanya bersama kakekku
saja karena ibu dan saudara kandungku tak menganggapku ada. Ibu masih
saja membenciku. Dan tentunya membenci kamu sayang…
Lambat laun,
seiring berlalunya waktu, ibu sadar bahwa hidup ini hanya persinggahan
sementara. Ketika anak kita berumur 5 tahun, ibu mau mengajaknya
bermain, bercanda, bahkan sesekali mengajaknya ke sawah. Ibu pun
menyuruhku untuk memasukkan anak kita ke taman kanak-kanak. Aku menolak
karena aku tau kau dan aku bukanlah orang tua yang kaya raya. Kita hanya
sepasang orang tua sederhana yang mungkin hanya mampu menyekolahkan
anaknya ke tingkat sekolah dasar tanpa melalui taman kanak-kanak
terlebih dahulu.
Masuk usia sekolah dasar, ibu pun akhirnya mau
bicara denganmu, berunding denganmu, tentang sekolah anak kita. Kala
itu, kau dan ibu duduk berhadapan, saling bicara dengan logat yang
begitu kaku dan tanpa basa-basi. Aku hanya tersenyum dan merasakan
luapan bahagia yang begitu besar. Ya, aku bahagia dan benar-benar
bahagia.
Kelas V SD, tak terasa anak kita sudah besar. Ia pun
sudah paham kenapa bapak dan ibunya jarang sekali bertemu. Ia pun tak
merasa iri kepada teman-temannya kenapa ia harus terlahir dengan status
sosial yang berbeda dari teman sebayanya. Sering kali aku menangis,
merasakan betapa anak kita begitu menderita karena ia tak bisa merasakan
kasih sayang bapaknya setiap hari. Aku hanya bisa memohon kepada Sang
Pemilik Hidup, tolong jaga anak kita dan besarkan ia dengan iman.
Inilah
saat-saat menyedihkanku. Kau sakit sayang, sakit yang begitu parah. Aku
bingung dan merasa linglung. Jika terjadi apa-apa denganmu, bagaimana
dengan anak kita? Aku tidak siap anak kita menjadi yatim. Beragam cara
kuusahakan demi kesembuhanmu walaupun cara yang kutempuh adalah cara
yang tidak biasa. Uang hasil bekerjaku sebagai tukang sapu di sekolah
anak kita kukumpulkan dan kutitipkan kepada orang kepercayaanku untuk
disampaikan kepadamu sebagai biaya pengobatan. Hanya dia sumber
informasiku. Hanya dia satu-satunya orang yang bisa memberiku penjelasan
lengkap tentang sakitmu. Ingin sekali rasanya aku memelukmu, mendekapmu
dengan penuh cinta dan membisikkan padamu “Tenang sayang, aku ada
disini untukmu. Kau pasti sembuh…”. Kenyataannya, keinginan itu harus
kubuang jauh karena keinginanku tak mungkin terjadi. Hingga akhirnya,
aku mendapati kabar dari orang kepercayaanku..
”Mina, suamimu sudah
meninggal. Apakah kamu tidak ingin melihat suamimu untuk yang terakhir
kalinya?”
Ambruk, ya, aku ambruk lemas dengan air mata yang bercucuran.
Tak percaya, sungguh tak percaya bahwa anak kita telah menjadi yatim.
Aku bertanya,”Aku ingin bertemu suamiku… Bantu aku untuk melihat
jasadnya. Tolong… Aku mohon… “ Seketika, orang-orang yang mengerumuniku
kala itu mengiyakan dan akan membantuku untuk berangkat ke rumahmu,
melihat jasadmu untuk terakhir kalinya.
Berhadapan denganmu,
dengan jasadmu yang telah tanpa ruh, aku hanya diam, tertegun dengan
perasaan berkecamuk yang begitu hebat. Ibuku pun memohon pada istri
pertamamu,”Tolong jangan usir Mina. Ijinkan dia untuk yang terakhir
kalinya bertemu Supri. Dia juga istri Supri, sama sepertimu Tin. Aku
mohon padamu Tin…”. Aku lihat ibu memohon kepada Mbak Tin, istri
pertamamu, dengan berlinang air mata. Aku jatuh tersimpuh di hadapan
jasadmu. Aku lemah, aku sungguh lemah tanpamu Mas Supri. Lalu tiba-tiba
seorang anak laki-laki memelukku dari belakang. Dengan suara yang
sesenggukan dan begitu parau,”Ibu… Bapak meninggal kan? Husein sudah
tidak punya bapak kan? Pak Pri sudah pergi ninggalin Husein…” Meluaplah
kesedihanku. Aku menangis begitu hebat. Husein menangis begitu hebat.
Mbak Tin menangis begitu hebat. Begitu juga anak-anakmu dari Mbak Tin.
Aku terlalu mencintaimu sayang… Tapi kenapa kau begitu cepat
meninggalkanku dan Husein?
Di samping batu nisanmu, kusampaikan
surat cinta ini. Surat cintaku padamu teriring doa semoga engkau tenang
di sana. Surat cinta yang baru sempat kutulis setelah kau tiada. Surat
cinta pertamaku padamu sayang. Dan mungkin esok atau di lain hari kan
kukirimkan beribu lembar surat cinta yang kan menceritakan tentang
besarnya cintaku padamu, begitu juga cinta Husein kepadamu. Aku cinta
kamu sayang. Dan aku sangat merindukanmu…
Yang Selalu Mencintaimu,
Mina dan Husein
*Terinspirasi dari kisah nyata*
Mohon
maaf apabila ada kesamaan nama tokoh, waktu, dan tempat kejadian karena
semata-mata penulis baru menjajal dunia tulisan... :D mohon
masukannya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar