Kamis, 23 Februari 2012

LOVE LETTER: UNTUK SANG TERKASIH

Sayang… Maaf kalau aku tertawa ketika aku ayunkan penaku demi menuliskan sebuah kenangan indah antara kau dan aku. Kenapa? Karena kau tau selama ini aku tidak pernah menulis surat kepadamu. Aku tak pernah punya waktu untuk sekedar menulis. Kini, demi rasa cintaku padamu yang takkan pernah padam, aku tuliskan sepenggal kisah antara kau dan aku.

Ingatkah engkau sayang? Awal mula kita memutuskan untuk bersatu, banyak sekali yang menentang. Kala itu aku merasa sendiri dan tak mampu lagi hidup karena ibuku pun ikut menentang keras pernikahan kita. Walaupun akhirnya ibu terpaksa mengijinkan kita untuk ijab qobul, tapi ibu tetap membenci dan tidak menerimamu sebagai menantu. Aku sedih. Tiap hari, tiap malam selama 1 bulan lebih aku tidak merasakan indahnya cinta dan malam pertama seperti layaknya sepasang pengantin baru. Ibu menentang kau tinggal di rumahku dan akupun tak boleh menyusulmu sayang. Pedih, perih, kenapa ibu harus memberi ijin kepada kita berdua untuk ijab qobul kalau akhirnya kita dipisahkan?

Tapi cukuplah kenangan buruk 1 bulan awal kita menikah. Aku tak mau mengingatnya sayang. Aku hanya ingin mengingat ketika malam hari kau menyelinap masuk ke rumahku seperti pencuri, mencari kesempatan ketika ibu sedang pergi. Akhirnya kau dan aku bisa merasakan indahnya malam pengantin setelah 1 bulan pernikahan kita. Ah, sungguh, walaupun singkat dan bertingkah seperti maling dikejar massa, aku merasakan bahagianya menjadi istrimu. Ya, kau tak bisa berlama-lama ada dirumahku karena kau dan aku sama-sama takut jika harus beradu emosi dengan ibuku.

Dan ya, Tuhan mungkin membantu hambaNya yang kesulitan. Aku mengandung anak pertama kita. Aku mengandung dalam keadaan dimusuhi ibu, dimusuhi saudara kandungku, dimusuhi saudara-saudaraku, dan hanya kakek yang tersenyum bahagia mengetahui kehamilanku. Hanya kakek yang berpihak kepadaku dan kepada si anak yang sedang kukandung. Pasrah dan tetap sabar menjalani hari-hari sulitku hingga akhirnya anak kita lahir sayang. Dia laki-laki, wajahnya mirip sekali denganmu. Walaupun kau tak tau bagaimana aku berjuang dengan maut ketika melahirkan jagoan kita tapi aku bersyukur ketika kau menyampaikan salam bahwa kau bahagia memiliki anak dariku.

Aku memang tak seperti istri-istri yang lain yang selalu ditemani sang suami ketika membesarkan seorang anak. Aku sendiri dan hanya bersama kakekku saja karena ibu dan saudara kandungku tak menganggapku ada. Ibu masih saja membenciku. Dan tentunya membenci kamu sayang…

Lambat laun, seiring berlalunya waktu, ibu sadar bahwa hidup ini hanya persinggahan sementara. Ketika anak kita berumur 5 tahun, ibu mau mengajaknya bermain, bercanda, bahkan sesekali mengajaknya ke sawah. Ibu pun menyuruhku untuk memasukkan anak kita ke taman kanak-kanak. Aku menolak karena aku tau kau dan aku bukanlah orang tua yang kaya raya. Kita hanya sepasang orang tua sederhana yang mungkin hanya mampu menyekolahkan anaknya ke tingkat sekolah dasar tanpa melalui taman kanak-kanak terlebih dahulu.

Masuk usia sekolah dasar, ibu pun akhirnya mau bicara denganmu, berunding denganmu, tentang sekolah anak kita. Kala itu, kau dan ibu duduk berhadapan, saling bicara dengan logat yang begitu kaku dan tanpa basa-basi. Aku hanya tersenyum dan merasakan luapan bahagia yang begitu besar. Ya, aku bahagia dan benar-benar bahagia.

Kelas V SD, tak terasa anak kita sudah besar. Ia pun sudah paham kenapa bapak dan ibunya jarang sekali bertemu. Ia pun tak merasa iri kepada teman-temannya kenapa ia harus terlahir dengan status sosial yang berbeda dari teman sebayanya. Sering kali aku menangis, merasakan betapa anak kita begitu menderita karena ia tak bisa merasakan kasih sayang bapaknya setiap hari. Aku hanya bisa memohon kepada Sang Pemilik Hidup, tolong jaga anak kita dan besarkan ia dengan iman.

Inilah saat-saat menyedihkanku. Kau sakit sayang, sakit yang begitu parah. Aku bingung dan merasa linglung. Jika terjadi apa-apa denganmu, bagaimana dengan anak kita? Aku tidak siap anak kita menjadi yatim. Beragam cara kuusahakan demi kesembuhanmu walaupun cara yang kutempuh adalah cara yang tidak biasa. Uang hasil bekerjaku sebagai tukang sapu di sekolah anak kita kukumpulkan dan kutitipkan kepada orang kepercayaanku untuk disampaikan kepadamu sebagai biaya pengobatan. Hanya dia sumber informasiku. Hanya dia satu-satunya orang yang bisa memberiku penjelasan lengkap tentang sakitmu. Ingin sekali rasanya aku memelukmu, mendekapmu dengan penuh cinta dan membisikkan padamu “Tenang sayang, aku ada disini untukmu. Kau pasti sembuh…”. Kenyataannya, keinginan itu harus kubuang jauh karena keinginanku tak mungkin terjadi. Hingga akhirnya, aku mendapati kabar dari orang kepercayaanku..
”Mina, suamimu sudah meninggal. Apakah kamu tidak ingin melihat suamimu untuk yang terakhir kalinya?” 
Ambruk, ya, aku ambruk lemas dengan air mata yang bercucuran. Tak percaya, sungguh tak percaya bahwa anak kita telah menjadi yatim. Aku bertanya,”Aku ingin bertemu suamiku… Bantu aku untuk melihat jasadnya. Tolong… Aku mohon… “ Seketika, orang-orang yang mengerumuniku kala itu mengiyakan dan akan membantuku untuk berangkat ke rumahmu, melihat jasadmu untuk terakhir kalinya.

Berhadapan denganmu, dengan jasadmu yang telah tanpa ruh, aku hanya diam, tertegun dengan perasaan berkecamuk yang begitu hebat. Ibuku pun memohon pada istri pertamamu,”Tolong jangan usir Mina. Ijinkan dia untuk yang terakhir kalinya bertemu Supri. Dia juga istri Supri, sama sepertimu Tin. Aku mohon padamu Tin…”. Aku lihat ibu memohon kepada Mbak Tin, istri pertamamu, dengan berlinang air mata. Aku jatuh tersimpuh di hadapan jasadmu. Aku lemah, aku sungguh lemah tanpamu Mas Supri. Lalu tiba-tiba seorang anak laki-laki memelukku dari belakang. Dengan suara yang sesenggukan dan begitu parau,”Ibu… Bapak meninggal kan? Husein sudah tidak punya bapak kan? Pak Pri sudah pergi ninggalin Husein…” Meluaplah kesedihanku. Aku menangis begitu hebat. Husein menangis begitu hebat. Mbak Tin menangis begitu hebat. Begitu juga anak-anakmu dari Mbak Tin. Aku terlalu mencintaimu sayang… Tapi kenapa kau begitu cepat meninggalkanku dan Husein?

Di samping batu nisanmu, kusampaikan surat cinta ini. Surat cintaku padamu teriring doa semoga engkau tenang di sana. Surat cinta yang baru sempat kutulis setelah kau tiada. Surat cinta pertamaku padamu sayang. Dan mungkin esok atau di lain hari kan kukirimkan beribu lembar surat cinta yang kan menceritakan tentang besarnya cintaku padamu, begitu juga cinta Husein kepadamu. Aku cinta kamu sayang. Dan aku sangat merindukanmu…

Yang Selalu Mencintaimu,
Mina dan Husein




*Terinspirasi dari kisah nyata*
Mohon maaf apabila ada kesamaan nama tokoh, waktu, dan tempat kejadian karena semata-mata penulis baru menjajal dunia tulisan... :D mohon masukannya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar